Ilmu yang Tidak Ikhlas Akan Menjadi Beban

Para ulama mengingatkan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah, dan setiap ibadah hanya diterima jika diniatkan karena Allah. Santri yang belajar dengan niat mencari kedudukan atau pujian manusia telah menggadaikan nilai ibadahnya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menasihatkan penuntut ilmu untuk senantiasa memeriksa niatnya: apakah ia belajar untuk mengamalkan, mengajarkan, dan mendekatkan diri kepada Allah, atau sekadar menumpuk gelar.

Keikhlasan tidak datang sekali dan selesai. Ia harus diperbarui setiap hari, terutama di tengah godaan dunia digital yang mengukur segalanya dengan jumlah pengikut dan tepuk tangan.